(Cooperating Learning)
Belajar dan Pembelajaran
Pendidikan
Matematika
Semester
II
Yayuk Farida, S.Pd. M.Pd.
Disusun oleh Kelompok 8 :
Laili Nur Hanifah
14184202059
Rani Cristina Yulia Novia Jayanti
14184202066
STKIP PGRI TRENGGALEK
2014/2015
Kata
Pengantar
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasihnya sehingga penulis dapat
mengerjakan tugas kelompok ini dengan tepat waktu. Tidak lupa penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Orang
tua yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan.
2. Ibu
Yayuk Farida Kusumadewi, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Belajar dan
Pembelajaran yang telah membimbing penulis sehingga penulis dapat megerjakan
tugas ini dengan baik.
3. Perpustakaan
Daerah Trenggalek yang telah memberi fasilitas dan reverensi kepada penulis
sehingga mendapatkan sumber bacaan yang relevan.
4. Teman-teman
yang telah memberi bantuan dalam mengerjakan tugas kelompok ini.
Semoga makalah ini
dapat bermanfaat kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumya. Namun
makalah ini masih memiliki banyak kekurangan karena, penulis menyadari
kurangnya referensi dan pemikiran penulis dalam menyusun makalah ini. Sehingga
kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan agar menjadi lebih
baik.
Wasalamu’alaikum Wr.Wb
Trenggalek, 04 Maret 2015
Penulis
-i-
Daftar
Isi
Kata Pengantar ______________________________________________________ i
Daftar Isi ___________________________________________________________ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang _________________________________________________ 1
1.2 Rumusan
Masalah _______________________________________________ 1
1.3 Tujuan
________________________________________________________ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Belajar Kooperatif (cooperative learning) ___________________ 3
2.2
Tujuan Belajar Kooperatif (cooperative learning) ______________________ 5
2.3
Karakteristik Belajar Kooperatif (cooperative learning) _________________ 5
2.4
Unsur-unsur Belajar Kooperatif (cooperative learning) __________________ 5
2.5
Pengelolaan Kelas Belajar Kooperatif (cooperative learning) _____________ 7
2.6
Teknik-teknik Belajar Kooperatif (cooperative learning) _________________ 9
2.7 Kekurangan Belajar kooperatif ____________________________________ 10
2.8 Kelebihan Belajar Kooperatif _____________________________________ 10
2.9 Model Belajar Kooperatif Tipe
Jigsaw ______________________________ 11
2.10 Model Belajar Kooperatif Tipe NHT
(Number Heads Together) ________ 11
2.11 Model Belajar Kooperatif Tipe STAD_____________________________ 12
2.12 Model Belajar Kooperatif Tipe TAI _______________________________ 12
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan __________________________________________________ 14
3.2
Kritik dan Saran _______________________________________________ 14
DAFTAR PUSTAKA ______________________________________________15
-ii-
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Model pembelajaran
adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran yang mengacu pada
pendekatan yang akan digunakan, termasuk tujuan-tujuan pembelajaran, lingkungan
dan pengelolahan kelas. Melalui pembelajaran guru dapat membantu peserta didik
mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir dan mengekpresikan ide.
Juga berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif muncul karena adanya
perkembangan dalam sistem pembelajaran yang ada. Pembelajaran kooperatif
menggantikan sistem pembelajaran yang individual. Dimana guru terus memberikan
informasi ( guru sebagai pusat ) dan peserta didik hanya mendengarkan.
Pembelajaran kooperatif mendapat dukungan dari Vygotsky tokoh teori
kontruktivisme. Dukungan Vygotsky antara lain:
a. Menekankan
peserta didik mengkonstruksi pengetahuan mealui interaksi sosial dengan orang
lain.
b. Selain
itu dia juga berpendapat bahwa penekanan belajar sebagai proses dialog
interaktif. Semua hal tersebut ada dalam pembelajaran kooperatif.
c. Arti
penting belajar kelompok dalam pembelajaran.
Pembelajaran
kooperatif ini membuat siswa dapat bekerjasama dan adanya partisiasi aktif dari
siswa. Dalam dunia pendidikan pembelajaran cooperative telah memiliki sejarah
yang panjang sejak zaman dahulukala, para guru telah mendorong siswa-siswa
mereka untuk bekerja sama dalam tugas-tugas kelompok tertentu dalam diskusi,
debat, atau pelajaran tambahan. Menurut beberapa ahli bahwa cooperative
learning tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit,
akan tetapi sangat berguna untuk menumbuhkan berfikir kritis.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang makalah di atas, maka dapat di rumuskan rumusan masalah dalam
makalah ini adalah: “Apakah para pendidik atau guru mengetahui model
pembelajaran cooperative learning dan tipe-tipenya?” Rumusan masalah tersebut
akan lebih jelas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud Belajar Kooperatif (cooperative
learning)?
-1-
2.
Apa tujuan dari model pembelajaran cooperative
learning?
3.
Apa karakteristik dari model pembelajaran cooperative
learning?
4.
Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur dari model
pembelajaran cooperative learnning?
5.
Bagaimana cara pengelolaan kelas menurut pembelajaran
cooperative learning?
6.
Sebutkan dan jelaskan teknik-teknik pembelajaran
cooperative learning?
7.
Jelaskan
kekurangan belajar kooperatif?
8.
Jelaskan
kelebihan belajar kooperatif?
9. Bagaimanakah
model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw?
10. Bagaimanakah
model pembelajaran cooperative learning tipe NHT (Number Heads Together)?
11. Bagaimanakah
model pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Teams Achievement
Divisions)?
12.
Bagaimanakah model pembelajaran cooperative learning
tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
1.3
Tujuan
Penulis
membuat makalah ini adalah:
1.
Untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Belajar
dan Pembelajaran.
2.
Agar memahami model-model pembelajaran yang baik, untuk
digunakan dalam mendidik peserta didik.
3.
Memberi informasi dan pengetahuan tentang model
pembelajaran cooperative learning.
4.
Memberi arahan cara mengelola kelas dan teknik-teknik
pembelajaran menurut cooperative learning.
5.
Menjelaskan tentang tipe-tipe pembelajaran cooperative
learning.
-2-
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif
1. Menurut Slavin (1994) menyatakan
bahwa “model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana
para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu
sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”.
2. Menurut Johnson & Johnson (1987)
dalam Isjoni (2009:17) menyatakan bahwa “pengertian model pembelajaran
kooperatif yaitu mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok
kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka
miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut”.
3. Menurut Rustaman (2003:206) dalam www.muhfida.com (2009) “pembelajaran
kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori
kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun
pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional”.
4. Menurut Lie (2008:12) menyatakan
bahwa “model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam
tugas-tugas yang terstruktur”.
5. Menurut Isjoni (2009:15)
menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan dari
istilah cooperative learning. Cooperative learning berasal dari
kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama
dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim”.
6. Menurut Hasan (1996) menyimpulkan
bahwa kooperatif mengandung pengertian
bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa
secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota
kelompoknya.
7. Menurut Sugandi (2002:14) menyatakan
bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja
kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang
bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka
dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”.
-3-
8. Menurut Sugiyanto (2008:35)
“pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja
sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.
9. Menurut Malik (2011) menyatakan
bahwa “pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis untuk sampai
kepada pengalaman individual dan kelompok, saling membantu, berdiskusi, ber-
argumentasi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman bersama”.
10. Menurut Wikipedia (2011)
“pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan istilah
umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja
sama kelompok dan interaksi antar siswa”.
Dari
beberapa definisi diatas dapat diperoleh bahwa Belajar
Kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berdasarkan
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada kerjasama atau kegiatan kelompok
agar siswa dapat maksimal dalam belajar dan dapat berinteraksi antarsiswa guna
mencapai tujuan belajar. (Woolfolk dalam Budiningarti 1998: 22) menyatakan
bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang didasarkan
pada faham konstruktivisme. Faham
konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran diawali
dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini berawal dari
pengetahuan yang akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari
hasil interaksi dengan lingkungannya.
Belajar
Kooperatif (cooperative learning) menonjolkan kepada sikap bekerjasama antara
siswa satu dan satunya sehingga sama seperti falsafah homo homini socius yang
model pembelajarannya yaitu gotong royong atau sama seperti makhluk sosial. Kerja
sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Sistem
pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan
sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai pengajaran
gotong royong atau cooperatif learning. Sistem pendidikan gotong royong
merupakan alternatif menarik yang dapat mencegah timbulnya kegresifan dalam
sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan
aspek kognitif.
-4-
2.2 Tujuan
Cooperative Learning
Cooperative
learning mempunyai tujuan pembelajaran yang penting yang dapat di resume oleh Ibrahim
(2000) yaitu:
1. Mencapai hasil belajar berupa
prestasi akademik yakni meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan
perubahan normal yang berhubungan dengan hasil belajar.
2. Dapat menerima secara luas dari
orang yang berbeda berdasarkan ras budaya, kelas social, kemampuan dan ketidak
mampuannya.
3. Mengajarkan kepada siswa ketrampilan
bekerja sama dan kolaborasi.
2.3
Karakteristik Pembelajaran
Kooperatif
1. Dalam kelompoknya, siswa haruslah
beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
2. Siswa memiliki tanggung jawab
terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri
mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Siswa haruslah berpandangan bahwa
semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4. Siswa haruslah membagi tugas dan
tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5. Siswa akan diberikan evaluasi atau
penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Siswa berbagi kepemimpinan dan
mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7. Siswa akan diminta
mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam
kelompoknya.
2.4 Unsur-Unsur
Pembelajaran Kooperatif
1.
Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif menuntut
adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan
motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Tiap siswa tergantung pada
anggota lainnya karena tiap siswa mendapat materi yang berbeda atau tugas yang
berbeda, oleh karena itu siswa satu dengan lainnya saling membutuhkan karena
jika ada siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas tersebut maka tugas
kelompoknya tidak dapat diselesaikan.
-5-
2.
Tanggung Jawab Perseorangan
Pembelajaran kooperatif juga
ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara
individual. Hasil penilaian individual tersebut selanjutnya disampaikan guru
kepada kelompok agar semua kelompok dapat mengetahui siapa anggota kelompok
yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan
bantuan. Karena tiap siswa mendapat tugas yang berbeda secara otomatis siswa
tersebut harus mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakan tugas tersebut karena
tugas setiap anggota kelompok mempunyai tugas yang berbeda sesuai dengan
kemampuannya yang dimiliki setiap individu.
3.
Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para
siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melalukan
dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi
semacam ini memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga
sumber belajar lebih bervariasi dan ini juga akan lebih memudahkan siswa dalam
belajar. Adanya tatap muka, maka siswa yang kurang memiliki kemampuan harus
dibantu oleh siswa yang lebih mampu me- ngerjakan tugas individu dalam kelompok
tersebut, agar tugas kelompoknya dapat terselesaikan.
4.
Komunikasi antar Anggota Kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif
keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,
mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahan pikiran logis,
tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat
dalam menjalin hubungan antar pribadi sengaja diajarkan dalam pembelajaran
kooperatif ini.
Unsur ini juga menghendaki agar para
siswa dibekali de- ngan berbagai keterampilan berkomunikasi.Sebelum menugaskan
siswa dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, karena
tidak semua siswa mempuanyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan
suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk sa- ling
mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
Adakalanya siswa perlu diberitahu secara jelas mengenai cara menyanggah
pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang lain.
-6-
5.
Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu
khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja
sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu
evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa
diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa pembelajar terlibat dalam
kegiatan pembelajaran cooperative
learning.
2.5
Pengelolaan
Kelas Cooperative Learning
Menciptakan lingkungan yang optimal baik secara fisik maupun
mental, dengan cara menciptakan suasana kelas yang yang nyaman, suasana hati
yang gembira tanpa tekanan maka dapat memudahkan siswa memahami materi
pelajaran. Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif
untuk mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Sesuai dengan pendapat
tersebut, maka dalam pelaksanaan model cooperative learning dibutuhkan kemauan
dan kemampuan serta kreatifitas guru dalam mengelola lingkungan kelas. Sehingga
dengan menggunakan model ini guru bukannya bertambah pasif tapi harus menjadi
lebih aktif terutama saat menyusun rencana pembelajaran secara matang,
pengaturan kelas saat pelaksanaan dan membuat tugas untuk dikerjakan oleh siswa
bersama dengan kelompoknya.
Dalam model pembelajaran cooperative learning, dibutuhkan
proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) dari anggota kelompoknya
Sehingga masing-masing siswa harus memiliki niat untuk bekerja sama dengan
anggota lainnya, di samping itu juga harus memiliki kiat-kiat bagaimana caranya
berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam pengelolaan kelas model
cooperative learning ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni
pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas.
(a)
Pembentukan Kelompok.
Pada saat pembentukan kelompok guru membuat kelompok yang
heterogen. Pembentukan kelompok dibentuk dengan memperhatikan kemampuan
akademis. Pada umumnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang yang
terdiri atas satu orang yang berkemampuan tinggi, dua orang yang berkemampuan
sedang, dan satu orang yang berkemampuan rendah.
Alasan dibentuk kelompok heterogen adalah: Pertama, memberi
kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua,
dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender.
-7-
Ketiga, memudahkan pengelolaan kelas karena masing-masing
kelompok memiliki anak yang berkemampuan tingii (special hilper), yang dapat
membantu teman lainnya dalam memecahkan suatu pemasalahan dalam kelompok.
(b)
Pemberian semangat kelompok.
Agar kelompok bisa bekerja secara
efektif dalam proses pembelajaran cooperative learning ini maka masing-masing
kelompok perlu memiliki semangat kelompok. Pemberian semangat ini sangat
penting agar kelompoknya dapar bekerja lebih baik ini. Pemberian semangat ini
bisa dibina dengan melakukan beberapa kegiatan yang bisa mempererat hubungan
antara anggota kelompok. yaitu melalui kegiatan kesamaan kelompok, identitas
kelompok, maupun sapaan atau sorak kelompok.
Dengan demikian diharapkan tertanam
perasaan saling memiliki di antara anggota kelompok. Rasa saling memiliki
menciptakan nasa kebersamaan, kesatuan, kesepakatan dan dukungan dalam belajar.
Dengan membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan
meningkatkan rasa tanggung jawab dari pelajar.
(c)
Penataan ruang kelas.
Penataan ruang kelas sangat
dipengaruhi oleh filsafat dan metode pembelajaran yang dipakai di kelas. Pada
umumnya penataan ruang kelas diatur secara klasikal, karena hal ini sangat
sesuai dengan metode ceramah. Dalam metode ini guru berperan sebagai nara
sumber yang utama atau mungkin satu-satunya nara sumber untuk model cooperative
learning guru tidak hanya sebagai satu-satunya nara sumber. Tetapi siswa juga
bisa belajar dari temannya dan guru berperan sebagai fasilitator, motivator,
mediator dan evaluator.
Sebagai konsekuensinya ruang kelas
harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang terjadinya dialog dalam
cooperative learning. Pengaturan bangku memainkan peranan penting dalam
kegiatan belajar model cooperative learning ini sehingga semua siswa bisa
melihat guru atau papan tulis dengan jelas. Disamping itu harus bisa melihat
dan menjangkau rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan
kelompoknya dengan merata.
-8-
Oleh sebab itu, guru harus mampu
menciptakan pengelolaan kelas cooperative learning, sehingga terjadi suatu
proses interaksi yang satu individu dengan individu lainnya dapat terjadi,
demikian pula interaksi antar kelompok dapat terbanguan. Karena inti dari
cooperative learning adalah proses pembelajaran secara kelompok (grup).
Menurut berbagai kajian di temukan
bahwa pembelajaran secara berkelompok kegiatan yang dapat menciptakan aktif,
kreatif, inovatif dan menyenangkan dapat terbangun. Hasil dari proses
pengajaran dan pembelajaran cooperative learning lebih optimal, dan banyak
kelebihan dari pelaksanaan model pengajaran dan pembelajaran cooperative
leraning ini jika dilakukan oleh guru. Semoga.
2.6
Teknik-teknik
Pembelajaran Cooperative Learning
1. Mencari
Pasangan (Make a Match) dikembangkan oleh Lorna
Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan
sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
2. Bertukar Pasangan, memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan
orang lain.
3. Berpikir-Berpasangan-Berempat merupakan kesempatan siswa untuk bekerja
sendiri dan bekerja sama dengan orang lain untuk mengoptimalkan partisipasi
siswa. Teknik ini dikembangkan
oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan
(Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajaran Cooperative
Learning. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi
siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan
membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik Berpikir-Berpasangan-Berempat
ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa
untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.
4. Berkirim Salam dan Soal bertujuan untuk melatih pengetahuan
dan keterampilan siswa. Siswa membuat pertanyaan sendiri sehingga akan merasa
lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh
teman-teman sekelasnya.
5. Kepala Bernomor (Numbered Heads) dikembangkan oleh Spencer Kagan
(1992), agar siswa saling membagikan
ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat serta meningkatkan
semangat kerjasama mereka.
-9-
6. Kepala Bernomor Terstruktur modifikasi Kepala Bernomor (Numbered
Heads), yang memudahkan pembagian tugas
sehingga siswa dapat belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dan saling
keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya.
2.7
Kekurangan Belajar Kooperatif
1.
Guru harus mempersiapkan
pembelajaran secara matang, di-
samping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.
Agar proses pembelajaran berjalan
dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup
memadai.
3.
Selama kegiatan diskusi kelompok
berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga
banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4.
Saat diskusi terkadang didominasi
seseorang, hal ini meng-akibatkan
siswa yang lain menjadi pasif.
5.
Bisa
menjadi tempat mengobrol atau gosip. Hal ini
terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar,
seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu
saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
2.8
Kelebihan belajar kooperatif
1.
Melalui model
pembelajaran kooperatif,
siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat
menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari
berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.
Model pembelajaran kooperatif dapat
mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.
Model pembelajaran kooperatif dapat
membantu siswa untuk menhargai orang lain
dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.
Model pembelajaran kooperatif dapat
memberdayakan setiap siswa untuk lebih
bertanggung jawab dalam belajar.
5.
Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi
yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial,
termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif
dengan orang lain, mengembangkan keterampilan, dan sikap positif terhadap sekolah.
-10-
6.
Model pembelajaran kooperatif dapat
mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima
umpan balik. Siswa dapat
memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat
adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.
Model pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan kemampuan siswa mengelola informasi dan
kemampuan belajar abs-
trak menjadi nyata.
8.
Interaksi selama kooperatif
berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal
ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.
2.9
Model
Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw
Model
pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk di Universitas Texas
yang merupakan model pembelajaran kooperatif. Siswa belajar dalam kelompok
kecil terdiri dari 4-5 orang dengan perbedaan yang siswa miliki, mereka
bekerjasama dalam hal positif dan bertanggung jawab untuk mempelajari masalah
serta menyampaikan materi yang diberikan kepada kelompok lain.
Di model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat dua kelompok
yaitu kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok ahli merupakan perwakilan siswa
dari kelompok asal yang bertugas untuk mempelajari dan memahami topik yang
kemudian dijelaskan kedalam kelompoknya semula yaitu, kelompok asal. Sedangkan
kelompok asal adalah gabungan dari beberapa ahli. Dengan kata lain, model
pembelajaran cooperative learning Jigsaw menimbulkan rasa ketergantungan antar
anggota kelompok agar mereka dapat memahami materi dengan baik. Dalam
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw peran guru adalah memfasilitasi dan
memotivasi setiap anggota kelompok agar memahami materi yang diberikan.
2.10
Model
Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Heads Together)
Model pembelajaran coorporative learning tipe NHT
(Number Heads Together) digunakan untuk mengembangkan siswa dalam penguatan
pemahaman atau pembelajaran terhadap materi yang sudah diajarkan dan melibatkan
semua siswa. Tipe Number Heads Together merupakan penyatuan pemikiran dalam
satu kelompok atau biasa disebut sebagai penyatuan kepala, tipe ini dikembangkan
oleh Spencer Kagen (1993).
-11-
Dalam model pembelajaran cooperative learning tipe
Number Heads Together ini guru pada akhir pembelajaran memberikan penjelasan
materi yang sudah disampaikan, arahan atau nasehat kepada siswa-siswinya. Guru
memberikan tes atau permasalahan dalam materi tersebut secara individu atau
kelompok agar guru mengetahui kemampuan dan pemahaman siswanya. Guru juga memberikan
hadiah kepada kelompok yang yang memiliki nilai yang tinggi.
Murid yang dibagi menjadi beberapa kelompok dalam
model pembelajaran Number Heeads Together ini diberikan tugas untuk menjawab
tes atau menjelaskan solusi dalam suatu permasalahan dalam materi yang sudah
diberikan guru kepada setiap kelompok.
2.11 Model Pembelajar Cooperative
Learning Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Model belajar kooperatif tipe STAD (Student Teams
Achievement Divisions) ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk dari Universitas
John Hopkins. Model ini biasanya digunakan untuk penguatan dan pemahaman materi
yang sudah diberikan guru kepada siswanya. Pada dasarnya model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) hampir sama seperti
model pembelajaran cooperatve learning tipe Number Heads Together yaitu, guru
menyampaikan materi dan menjelaskan pada akhir pertemuan, guru memberikan
nasehat dan hadiah kepada siswanya yang mendapatkan nilai yang baik. Sedangkan yang membedakan adalah
guru membagi kelompok dengan latar belakang kemampuan dan asal-usul yang
berbeda, tesnya perindividu sedangkan penilaiannya individu dan kelompok serta
materi yang sudah disiapkan didiskusikan kepada anggota kelompoknya bukan
didiskusikan dengan kelompok lain.
2.12 Model Pembelajaran Cooperative Learning
Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Model pembelajaran cooperative learning tipe TAI (Team
Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) dikembangkan oleh
Slavin. Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated
Instruction) adalah tipe yang mengkombinasikan pembelajaran kooperatif dan
pembelajaran individual yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa
secara individual.
Maka dari itu kegiatan dalam tipe TAI (Team Assisted
Individualization atau Team Accelerated Instruction) banyak menggunakan
pemecahan masalah, setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran
yang sudah dipersiapkan oleh guru. Kemudian
-12-
hasil
belajar individu didiskusikan dan dibahas kedalam kelompok masing-masing, semua
anggota kelompok bertanggung jawab atas semua jawaban dari soal yang diberikan
guru kepada masing-masing individu sebagai tanggung jawab bersama. Pemberian
penghargaan kepada kelompok yang memiliki nilai tinggi berdasarkan nilai
belajar individu dari nilai dasar ke nilai kuis berikutnya.
-13-
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa belajar kooperatif
(cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berdasarkan pendekatan
pembelajaran yang berfokus pada kerjasama atau kegiatan kelompok agar siswa
dapat maksimal dalam belajar dan dapat berinteraksi antarsiswa guna mencapai
tujuan belajar. Dalam proses belajar, guru perlu menggunakan model pembelajaran
secara berkelompok agar menciptakan rasa sosial, gotong royong saling membantu
dan kebersamaan dalam hal positif. Para siswa juga dapat memahami
teman-temannya lebih dalam agar tercipta perdamaian dan kasih sayang diantara
mereka walaupun berbeda latar belakang asal dan kehidupan. Pendidik yang
menggunakan model pembelajaran kooperatif dapat menciptakan siswa untuk
bertanggung jawab terhadap dirinya dan teman lainnya, siswa juga dapat belajar
cara komunikasi yang baik kepada orang lain. Semua itu dibutuhkan bagi para
siswa pada jaman sekarang.
3.2
Kritik dan
Saran
Sekarang ini banyak siswa yang lupa dengan cara menghargai
sesama manusia sehingga menimbulkan konflik dan pertengkaran dimana-mana. Para
siswa belajar berawal dari keluarga namun para siswa juga banyak menghabiskan
waktu mereka didalam proses pembelajaran disekolah sehingga sebaiknya para
pengajar memberikan proses pembelajaran dan contoh yang baik bagi para siswa.
Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam sekolah menimbulkan
kejenuhan dalam diri para siswanya sehingga sebaiknya pengajar mengerti
bagaimana cara mengolah kelas agar nyaman ditempati para siswanya dan para
siswa juga mendapatkan hasil dari pembelajarannya. Keberhasilan dalam mengajar
mungkin dipandang sebelah mata pada sebagian pengajar atau pendidik. Padahal
itu semua perlu diperhatikan dan diutamakan agar para siswa dapat menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
-14-
DAFTAR PUSTAKA
Prof.
Wahyudin. 2008. Pembelajaran dan
Model-model Pembelajaran Seri 4. Jakarta. CV Ipa Abong.
Prof.
Dr. S. Nasution, M.A. Berbagai Pendekatan
dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta. PT.Bumi Aksara.
https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-kooperatif-cooperative-learning/
(4 Maret 2015 10:00 WIB)
http://pandidikan.blogspot.com/2010/05/cooperative-learning.html
(4 Maret 2015 10:00 WIB)
http://abazariant.blogspot.com/2012/10/makalah-model-pembelajaran-kooperatif.html
(4 Maret 2015 10:00 WIB)
http://nunimulyaningsih-bintang.blogspot.com/2009/11/pengelolaan-kelas-cooperative-learning.html
(4 Maret 2015 10:00 WIB)
(4 Maret 2015 10:00 WIB)
-15-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar