Selasa, 31 Maret 2015

Belajar Kooperatif

Belajar Kooperatif
(Cooperating Learning)
Belajar dan Pembelajaran



Pendidikan Matematika
Semester II
Yayuk Farida, S.Pd. M.Pd.

Disusun oleh Kelompok 8 :
Laili Nur Hanifah
14184202059
Rani Cristina Yulia Novia Jayanti
14184202066
                                                                          
STKIP PGRI TRENGGALEK
2014/2015


Kata Pengantar


Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasihnya sehingga penulis dapat mengerjakan tugas kelompok ini dengan tepat waktu. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1.    Orang tua yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan.
2.    Ibu Yayuk Farida Kusumadewi, M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang telah membimbing penulis sehingga penulis dapat megerjakan tugas ini dengan baik.
3.    Perpustakaan Daerah Trenggalek yang telah memberi fasilitas dan reverensi kepada penulis sehingga mendapatkan sumber bacaan yang relevan.
4.    Teman-teman yang telah memberi bantuan dalam mengerjakan tugas kelompok ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumya. Namun makalah ini masih memiliki banyak kekurangan karena, penulis menyadari kurangnya referensi dan pemikiran penulis dalam menyusun makalah ini. Sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan agar menjadi lebih baik.

Wasalamu’alaikum Wr.Wb

Trenggalek, 04 Maret 2015


Penulis
-i-


Daftar Isi

Kata Pengantar ______________________________________________________  i
Daftar Isi ___________________________________________________________ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang _________________________________________________ 1
1.2  Rumusan Masalah _______________________________________________ 1
1.3  Tujuan ________________________________________________________ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Belajar Kooperatif (cooperative learning) ___________________ 3
2.2 Tujuan Belajar Kooperatif (cooperative learning) ______________________ 5
2.3 Karakteristik Belajar Kooperatif (cooperative learning) _________________  5
2.4 Unsur-unsur Belajar Kooperatif (cooperative learning) __________________ 5
2.5 Pengelolaan Kelas Belajar Kooperatif (cooperative learning) _____________ 7
2.6 Teknik-teknik Belajar Kooperatif (cooperative learning) _________________ 9
2.7 Kekurangan Belajar kooperatif ____________________________________ 10
2.8 Kelebihan Belajar Kooperatif _____________________________________ 10
2.9 Model Belajar Kooperatif Tipe Jigsaw ______________________________ 11
2.10 Model Belajar Kooperatif Tipe NHT (Number Heads Together) ________ 11
2.11 Model Belajar Kooperatif Tipe STAD_____________________________ 12
2.12 Model Belajar Kooperatif Tipe TAI _______________________________ 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan __________________________________________________  14
3.2 Kritik dan Saran _______________________________________________ 14
DAFTAR PUSTAKA ______________________________________________15

-ii-


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran yang mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk tujuan-tujuan pembelajaran, lingkungan dan pengelolahan kelas. Melalui pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir dan mengekpresikan ide. Juga berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif muncul karena adanya perkembangan dalam sistem pembelajaran yang ada. Pembelajaran kooperatif menggantikan sistem pembelajaran yang individual. Dimana guru terus memberikan informasi ( guru sebagai pusat ) dan peserta didik hanya mendengarkan. Pembelajaran kooperatif mendapat dukungan dari Vygotsky tokoh teori kontruktivisme. Dukungan Vygotsky antara lain:
a.    Menekankan peserta didik mengkonstruksi pengetahuan mealui interaksi sosial dengan orang lain.
b.    Selain itu dia juga berpendapat bahwa penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif. Semua hal tersebut ada dalam pembelajaran kooperatif.
c.    Arti penting belajar kelompok dalam pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif ini membuat siswa dapat bekerjasama dan adanya partisiasi aktif dari siswa. Dalam dunia pendidikan pembelajaran cooperative telah memiliki sejarah yang panjang sejak zaman dahulukala, para guru telah mendorong siswa-siswa mereka untuk bekerja sama dalam tugas-tugas kelompok tertentu dalam diskusi, debat, atau pelajaran tambahan. Menurut beberapa ahli bahwa cooperative learning tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, akan tetapi sangat berguna untuk menumbuhkan berfikir kritis.
1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang makalah di atas, maka dapat di rumuskan rumusan masalah dalam makalah ini adalah: “Apakah para pendidik atau guru mengetahui model pembelajaran cooperative learning dan tipe-tipenya?” Rumusan masalah tersebut akan lebih jelas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud Belajar Kooperatif (cooperative learning)?
-1-


2.    Apa tujuan dari model pembelajaran cooperative learning?
3.    Apa karakteristik dari model pembelajaran cooperative learning?
4.    Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur dari model pembelajaran cooperative learnning?
5.    Bagaimana cara pengelolaan kelas menurut pembelajaran cooperative learning?
6.    Sebutkan dan jelaskan teknik-teknik pembelajaran cooperative learning?
7.    Jelaskan kekurangan belajar kooperatif?
8.    Jelaskan kelebihan belajar kooperatif?
9.    Bagaimanakah model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw?
10.    Bagaimanakah model pembelajaran cooperative learning tipe NHT (Number Heads Together)?
11.    Bagaimanakah model pembelajaran cooperative learning tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)?
12.    Bagaimanakah model pembelajaran cooperative learning tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
1.3         Tujuan
Penulis membuat makalah ini adalah:
1.    Untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
2.    Agar memahami model-model pembelajaran yang baik, untuk digunakan dalam mendidik peserta didik.
3.    Memberi informasi dan pengetahuan tentang model pembelajaran cooperative learning.
4.    Memberi arahan cara mengelola kelas dan teknik-teknik pembelajaran menurut cooperative learning.
5.    Menjelaskan tentang tipe-tipe pembelajaran cooperative learning.

-2-


BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
1.    Menurut Slavin (1994) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”.
2.    Menurut Johnson & Johnson (1987) dalam Isjoni (2009:17) menyatakan bahwa “pengertian model pembelajaran kooperatif yaitu mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut”.
3.    Menurut Rustaman (2003:206) dalam www.muhfida.com (2009) “pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dikembangkan dari teori kontruktivisme karena mengembangkan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional”.
4.    Menurut Lie (2008:12) menyatakan bahwa “model pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur”.
5.    Menurut Isjoni (2009:15) menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan terjemahan dari istilah cooperative learning. Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim”.
6.    Menurut Hasan (1996) menyimpulkan bahwa kooperatif  mengandung pengertian bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya.
7.    Menurut Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”.
-3-


8.    Menurut Sugiyanto (2008:35) “pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.
9.    Menurut Malik (2011) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis untuk sampai kepada pengalaman individual dan kelompok, saling membantu, berdiskusi, ber- argumentasi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman bersama”.
10.    Menurut Wikipedia (2011) “pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa”.
Dari beberapa definisi diatas dapat diperoleh bahwa Belajar Kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berdasarkan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada kerjasama atau kegiatan kelompok agar siswa dapat maksimal dalam belajar dan dapat berinteraksi antarsiswa guna mencapai tujuan belajar. (Woolfolk dalam Budiningarti 1998: 22) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang didasarkan pada faham konstruktivisme. Faham konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini berawal dari pengetahuan yang akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Belajar Kooperatif (cooperative learning) menonjolkan kepada sikap bekerjasama antara siswa satu dan satunya sehingga sama seperti falsafah homo homini socius yang model pembelajarannya yaitu gotong royong atau sama seperti makhluk sosial. Kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai pengajaran gotong royong atau cooperatif learning. Sistem pendidikan gotong royong merupakan alternatif menarik yang dapat mencegah timbulnya kegresifan dalam sistem kompetisi dan keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
-4-


2.2     Tujuan Cooperative Learning
Cooperative learning mempunyai tujuan pembelajaran yang penting yang dapat di resume oleh Ibrahim (2000) yaitu:
1.    Mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik yakni meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan normal yang berhubungan dengan hasil belajar.
2.    Dapat menerima secara luas dari orang yang berbeda berdasarkan ras budaya, kelas social, kemampuan dan ketidak mampuannya.
3.    Mengajarkan kepada siswa ketrampilan bekerja sama dan kolaborasi.
2.3         Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
1.    Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
2.    Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3.    Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.    Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.    Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.    Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7.    Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam kelompoknya.
2.4     Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
1.    Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Tiap siswa tergantung pada anggota lainnya karena tiap siswa mendapat materi yang berbeda atau tugas yang berbeda, oleh karena itu siswa satu dengan lainnya saling membutuhkan karena jika ada siswa yang tidak dapat mengerjakan tugas tersebut maka tugas kelompoknya tidak dapat diselesaikan.
-5-


2.    Tanggung Jawab Perseorangan
Pembelajaran kooperatif juga ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua kelompok dapat mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Karena tiap siswa mendapat tugas yang berbeda secara otomatis siswa tersebut harus mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakan tugas tersebut karena tugas setiap anggota kelompok mempunyai tugas yang berbeda sesuai dengan  kemampuannya yang dimiliki setiap individu.
3.    Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melalukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam ini memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi dan ini juga akan lebih memudahkan siswa dalam belajar. Adanya tatap muka, maka siswa yang kurang memiliki kemampuan harus dibantu oleh siswa yang lebih mampu me- ngerjakan tugas individu dalam kelompok tersebut, agar tugas kelompoknya dapat terselesaikan.
4.    Komunikasi antar Anggota Kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi sengaja diajarkan dalam pembelajaran kooperatif ini.
Unsur ini juga menghendaki agar para siswa dibekali de- ngan berbagai keterampilan berkomunikasi.Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi, karena tidak semua siswa mempuanyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk sa- ling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Adakalanya siswa perlu diberitahu secara jelas mengenai cara menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang lain.
-6-


5.    Evaluasi Proses Kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran cooperative learning.
2.5         Pengelolaan Kelas Cooperative Learning
Menciptakan lingkungan yang optimal baik secara fisik maupun mental, dengan cara menciptakan suasana kelas yang yang nyaman, suasana hati yang gembira tanpa tekanan maka dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Sesuai dengan pendapat tersebut, maka dalam pelaksanaan model cooperative learning dibutuhkan kemauan dan kemampuan serta kreatifitas guru dalam mengelola lingkungan kelas. Sehingga dengan menggunakan model ini guru bukannya bertambah pasif tapi harus menjadi lebih aktif terutama saat menyusun rencana pembelajaran secara matang, pengaturan kelas saat pelaksanaan dan membuat tugas untuk dikerjakan oleh siswa bersama dengan kelompoknya.
Dalam model pembelajaran cooperative learning, dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) dari anggota kelompoknya Sehingga masing-masing siswa harus memiliki niat untuk bekerja sama dengan anggota lainnya, di samping itu juga harus memiliki kiat-kiat bagaimana caranya berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam pengelolaan kelas model cooperative learning ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas.
(a)          Pembentukan Kelompok.
Pada saat pembentukan kelompok guru membuat kelompok yang heterogen. Pembentukan kelompok dibentuk dengan memperhatikan kemampuan akademis. Pada umumnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang yang terdiri atas satu orang yang berkemampuan tinggi, dua orang yang berkemampuan sedang, dan satu orang yang berkemampuan rendah.
Alasan dibentuk kelompok heterogen adalah: Pertama, memberi kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender.
-7-


Ketiga, memudahkan pengelolaan kelas karena masing-masing kelompok memiliki anak yang berkemampuan tingii (special hilper), yang dapat membantu teman lainnya dalam memecahkan suatu pemasalahan dalam kelompok.
(b)          Pemberian semangat kelompok.
Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran cooperative learning ini maka masing-masing kelompok perlu memiliki semangat kelompok. Pemberian semangat ini sangat penting agar kelompoknya dapar bekerja lebih baik ini. Pemberian semangat ini bisa dibina dengan melakukan beberapa kegiatan yang bisa mempererat hubungan antara anggota kelompok. yaitu melalui kegiatan kesamaan kelompok, identitas kelompok, maupun sapaan atau sorak kelompok.
Dengan demikian diharapkan tertanam perasaan saling memiliki di antara anggota kelompok. Rasa saling memiliki menciptakan nasa kebersamaan, kesatuan, kesepakatan dan dukungan dalam belajar. Dengan membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab dari pelajar.
(c)           Penataan ruang kelas.
Penataan ruang kelas sangat dipengaruhi oleh filsafat dan metode pembelajaran yang dipakai di kelas. Pada umumnya penataan ruang kelas diatur secara klasikal, karena hal ini sangat sesuai dengan metode ceramah. Dalam metode ini guru berperan sebagai nara sumber yang utama atau mungkin satu-satunya nara sumber untuk model cooperative learning guru tidak hanya sebagai satu-satunya nara sumber. Tetapi siswa juga bisa belajar dari temannya dan guru berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator dan evaluator.
Sebagai konsekuensinya ruang kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang terjadinya dialog dalam cooperative learning. Pengaturan bangku memainkan peranan penting dalam kegiatan belajar model cooperative learning ini sehingga semua siswa bisa melihat guru atau papan tulis dengan jelas. Disamping itu harus bisa melihat dan menjangkau rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.
-8-


Oleh sebab itu, guru harus mampu menciptakan pengelolaan kelas cooperative learning, sehingga terjadi suatu proses interaksi yang satu individu dengan individu lainnya dapat terjadi, demikian pula interaksi antar kelompok dapat terbanguan. Karena inti dari cooperative learning adalah proses pembelajaran secara kelompok (grup).
Menurut berbagai kajian di temukan bahwa pembelajaran secara berkelompok kegiatan yang dapat menciptakan aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan dapat terbangun. Hasil dari proses pengajaran dan pembelajaran cooperative learning lebih optimal, dan banyak kelebihan dari pelaksanaan model pengajaran dan pembelajaran cooperative leraning ini jika dilakukan oleh guru. Semoga.

2.6         Teknik-teknik Pembelajaran Cooperative Learning
1.    Mencari Pasangan (Make a Match) dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang me­nyenangkan.
2.    Bertukar Pasangan, memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain.
3.    Berpikir-Berpasangan-Berempat merupakan kesempatan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain untuk mengoptimalkan partisipasi siswa. Teknik ini dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spen­cer Kagan (Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pem­belajaran Cooperative Learning. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik Berpikir-Berpasangan-Berempat ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain.
4.    Berkirim Salam dan Soal bertujuan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan siswa. Siswa membuat pertanyaan sendiri sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya.
5.    Kepala Bernomor (Numbered Heads) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992), agar siswa saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat serta meningkatkan semangat kerjasama mereka.
-9-


6.    Kepala Bernomor Terstruktur modifikasi Kepala Bernomor (Numbered Heads), yang  memudahkan pembagian tugas sehingga siswa dapat belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dan saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya.
2.7         Kekurangan Belajar Kooperatif
1.    Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, di- samping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.    Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
3.    Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4.    Saat diskusi terkadang didominasi seseorang, hal ini meng-akibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
5.    Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip. Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
2.8         Kelebihan belajar kooperatif
1.    Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.    Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.    Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk menhargai orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.    Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.    Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan, dan sikap positif terhadap sekolah.
-10-


6.    Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.    Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa mengelola informasi dan kemampuan belajar abs- trak menjadi nyata.
8.    Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.
2.9         Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw
Model pembelajaran cooperative learning tipe Jigsaw ini pertama kali dikembangkan oleh Aronson dkk di Universitas Texas yang merupakan model pembelajaran kooperatif. Siswa belajar dalam kelompok kecil terdiri dari 4-5 orang dengan perbedaan yang siswa miliki, mereka bekerjasama dalam hal positif dan bertanggung jawab untuk mempelajari masalah serta menyampaikan materi yang diberikan kepada kelompok lain.
Di model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat dua kelompok yaitu kelompok ahli dan kelompok asal. Kelompok ahli merupakan perwakilan siswa dari kelompok asal yang bertugas untuk mempelajari dan memahami topik yang kemudian dijelaskan kedalam kelompoknya semula yaitu, kelompok asal. Sedangkan kelompok asal adalah gabungan dari beberapa ahli. Dengan kata lain, model pembelajaran cooperative learning Jigsaw menimbulkan rasa ketergantungan antar anggota kelompok agar mereka dapat memahami materi dengan baik. Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw peran guru adalah memfasilitasi dan memotivasi setiap anggota kelompok agar memahami materi yang diberikan.
2.10     Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Heads Together)
Model pembelajaran coorporative learning tipe NHT (Number Heads Together) digunakan untuk mengembangkan siswa dalam penguatan pemahaman atau pembelajaran terhadap materi yang sudah diajarkan dan melibatkan semua siswa. Tipe Number Heads Together merupakan penyatuan pemikiran dalam satu kelompok atau biasa disebut sebagai penyatuan kepala, tipe ini dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993).
-11-


Dalam model pembelajaran cooperative learning tipe Number Heads Together ini guru pada akhir pembelajaran memberikan penjelasan materi yang sudah disampaikan, arahan atau nasehat kepada siswa-siswinya. Guru memberikan tes atau permasalahan dalam materi tersebut secara individu atau kelompok agar guru mengetahui kemampuan dan pemahaman siswanya. Guru juga memberikan hadiah kepada kelompok yang yang memiliki nilai yang tinggi.
Murid yang dibagi menjadi beberapa kelompok dalam model pembelajaran Number Heeads Together ini diberikan tugas untuk menjawab tes atau menjelaskan solusi dalam suatu permasalahan dalam materi yang sudah diberikan guru kepada setiap kelompok.
2.11     Model Pembelajar Cooperative Learning Tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Model belajar kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk dari Universitas John Hopkins. Model ini biasanya digunakan untuk penguatan dan pemahaman materi yang sudah diberikan guru kepada siswanya. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) hampir sama seperti model pembelajaran cooperatve learning tipe Number Heads Together yaitu, guru menyampaikan materi dan menjelaskan pada akhir pertemuan, guru memberikan nasehat dan hadiah kepada siswanya yang mendapatkan nilai  yang baik. Sedangkan yang membedakan adalah guru membagi kelompok dengan latar belakang kemampuan dan asal-usul yang berbeda, tesnya perindividu sedangkan penilaiannya individu dan kelompok serta materi yang sudah disiapkan didiskusikan kepada anggota kelompoknya bukan didiskusikan dengan kelompok lain.
2.12     Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Model pembelajaran cooperative learning tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) dikembangkan oleh Slavin. Tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) adalah tipe yang mengkombinasikan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual.
Maka dari itu kegiatan dalam tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) banyak menggunakan pemecahan masalah, setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Kemudian
-12-


hasil belajar individu didiskusikan dan dibahas kedalam kelompok masing-masing, semua anggota kelompok bertanggung jawab atas semua jawaban dari soal yang diberikan guru kepada masing-masing individu sebagai tanggung jawab bersama. Pemberian penghargaan kepada kelompok yang memiliki nilai tinggi berdasarkan nilai belajar individu dari nilai dasar ke nilai kuis berikutnya.




























-13-


BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa belajar kooperatif (cooperative learning) adalah model pembelajaran yang berdasarkan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada kerjasama atau kegiatan kelompok agar siswa dapat maksimal dalam belajar dan dapat berinteraksi antarsiswa guna mencapai tujuan belajar. Dalam proses belajar, guru perlu menggunakan model pembelajaran secara berkelompok agar menciptakan rasa sosial, gotong royong saling membantu dan kebersamaan dalam hal positif. Para siswa juga dapat memahami teman-temannya lebih dalam agar tercipta perdamaian dan kasih sayang diantara mereka walaupun berbeda latar belakang asal dan kehidupan. Pendidik yang menggunakan model pembelajaran kooperatif dapat menciptakan siswa untuk bertanggung jawab terhadap dirinya dan teman lainnya, siswa juga dapat belajar cara komunikasi yang baik kepada orang lain. Semua itu dibutuhkan bagi para siswa pada jaman sekarang.
3.2         Kritik dan Saran
Sekarang ini banyak siswa yang lupa dengan cara menghargai sesama manusia sehingga menimbulkan konflik dan pertengkaran dimana-mana. Para siswa belajar berawal dari keluarga namun para siswa juga banyak menghabiskan waktu mereka didalam proses pembelajaran disekolah sehingga sebaiknya para pengajar memberikan proses pembelajaran dan contoh yang baik bagi para siswa.
Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam sekolah menimbulkan kejenuhan dalam diri para siswanya sehingga sebaiknya pengajar mengerti bagaimana cara mengolah kelas agar nyaman ditempati para siswanya dan para siswa juga mendapatkan hasil dari pembelajarannya. Keberhasilan dalam mengajar mungkin dipandang sebelah mata pada sebagian pengajar atau pendidik. Padahal itu semua perlu diperhatikan dan diutamakan agar para siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
-14-


DAFTAR PUSTAKA

Prof. Wahyudin. 2008. Pembelajaran dan Model-model Pembelajaran Seri 4. Jakarta. CV Ipa Abong.
Prof. Dr. S. Nasution, M.A. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta. PT.Bumi Aksara.
(4 Maret 2015 10:00 WIB)









-15-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar